Umroh dan Haji Risalah Madina

Umroh dan Haji Risalah Madina

ZIARAH


A. Pengertian Ziarah.

Umroh. Yang dimaksud ziarah adalah berkunjung ke tempat-tempat suci atau tempat bersejarah di sekitar kota Madinah, Makkah dan tempat lain

B. Tujuan Ziarah

Ziarah merupakan amalan yang bertujuan melihat dari dekat tempat-tempat bersejarah dan untuk menyaksikan secara nyata tempat-tempat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan agama Islam, agar dapat mempertebal iman. Ziarah ke tempat bersejarah, baik Makkah, Madinah maupun tempat lain termasuk rangkaian ibadah haji.

C. Hukum Ziarah

Hukum adal berziarah ke tempat-tempat bersejarah adalah mubah. Bila di laksanakan dengan niat baik untuk menambah iman dan keyakinan terhadap kebenaran ajaran Islam hukumnya menjadi sunat. Tetapi apabila dilaksanakan dengan cara berlebihan, misalnya dengan cara mengeramatkan tempat-tempat tersebut sehingga menimbulkan kemusyrikan hukumnya menjadi haram.

D. Tempat-tempat Ziara di Makkah.

  1. Jabal Nur dan Gua Hira.

Umroh. Di sebelah utara Masjidil Haram +- 6 KM terdapat sebuah gunung, yang disebut Jabal Nur. Untuk mendaki ke atas memerlukan waktu +- 1 jam, dipuncaknya, agak menurun sedikit, terdapat sebuah gua yang cukup untuk duduk 4 orang, tinggi di dalamnya setinggi orang berdiri. Gua tersebut dikenal dengan nama Gua Hira. Jabal Nur dan Gua Hira ini sangat penting dalam sejarah islam, karena di Gua inilah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu yang pertama, yaitu Surat Al – ‘Alaq dari Ayat 1 s.d. 5.
  1. Jabal Tsur.

Disebelah selatan Masjidil Haram sejauh +- 6 KM terdapat Jabal Tsur. Jabal Tsur ini mempunyai nilai penting dalam sejarah Islam. Rasulullah SAW bersama-sama dengan Abu Bakar  Assiddiq  pernah menyembunyikan dirinya di Gunung tersebut waktu hendak hijrah ke Madinah,. Menurut riwayat, setelah Rasulullah SAW selamat dari kepugan orang Kafir Quraisy di rumahnya, maka beliau dengan diam – diam menyinggahi sahabat Abu Bakar Assiddiq. Dari rumah Abu Bakar beliau bersama – sama dengan Abu Bakar lebih dahulu berlindung menyembunyikan dirinya di Jabal Tsur kemuadian menuju Madinah. Sebagaian orang – orang kafir Quraisy waktu mengejar Rasulullah SAW ada yang telah sampai ke Gua Tsur, mereka mendapatkan Gua tersebut, tertutup dengan sarang laba – laba, dan Nampak burung merpati yang sedang bertelur di sarangnya. Dengan melihat keadaan yang demikian itu, mereka berkesimpulan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak mungkin bersembunyi di Gua tersebut. Sewaktu orang – orang Quraisy di muka gua, bukan main cemas hati Abu Bakar Assiddiq, kemudian datang wahyu Allah Surat At Taubah ayat 40. Setelah orang kafir Quraisy pergi maka beberapa hari kemudian , Nabi dan Abu Bakar Assiddiq berangkat menuju Madinah dengan selamat.
Jika ingin masuk ke gua tersebut harus  bertiarap dan setelah masuk hanya dapat duduk saja. Untuk mencapai Gua Tsur ini memerlukan perjalanan mendaki  1 ½ jam.
  1. Jabal Rahmah.

Di padang Arafah terlihat sebuah bukit yang atasnya terdapat tugu, bukit tersebut bernama Jabal Rahma. Menurut riwayat sewaktu Nabi Adam a.s dan Siti Hawa turun dari Surga, keduanya terpisah dalam kurun waktu yang cukup lama sampai 100 tahun. Antara satu dengan yang lain saling mencari,  akhirnya bertemu di Padang Arafah dan berkumpul di Jabal Rahmah.
  1. Masjid Jin.

Masjid Jin terletak di dekat Ma’la. Dinamakan Masjid Jin, karena ada sekelompok Jin bersepakat ( berbai’at ) mengakui Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Masjid Jin ini ada kaitannya dengan Asbabunnuzul Al – Qur’an surat Jin Ayat 1-2.

E. Tempat – tempat Ziarah di Madinah.

  1. Masjid Nabawi.

Umroh. Shalat di Masjid Nabawi nilainya sangat tinggi sebagaimana sabda Nabi SAW :
صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ

Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Humaizah dan Hakim)
  1. Sejarah Berdirinya.

Waktu Rasulullah SAW masuk Madinah, kaum Ansar mengeluelukan beliau serta menawarkan rumah untuk beristirahat. Namun Rasulullah SAW menjawab dengan bijaksana :
“Biarkanlah unta ini jalan, karena ia di perintah Allah”. Setelah sampai dihadapan rumah Abu Ayyub Al Ansari, unta tersebut berhenti,  kemudian beliau dipersilahakan oleh Abu Ayyub Al Ansari tinggal di rumahnya. Setelah beberapa bulan di rumah Abu Ayyub Al Ansari, Nabi mendirikan Masjid di atas sebidang tanah yang sebagian milik As’ad bin Zurrah diserahkan sebagai wakaf. Sebagian lagi milik anak yatim sahal dan suhail anak Amir Bin Amarah di bawah asuhan Mu’adz Bin Atrah, waktu membangun masjid Nabi meletakan batu pertama selanjutnya kedua, ketiga, keempat dan kelima masing – masing oleh sahabat Abu Bakar , Umar, Usman dan Ali. Kemudian di kerjakan dengan gotong royong sampai selesai. Pagarnya dari batu tanah (setinggi +- 2 m). Tiang – tiangnya dari batang kurma, atap dari pelepah daun kurma, halaman di tutup dengan batu – batu kecil, kiblat menghadap Baitul Maqdis,  karena waktu itu perintah Allah untuk menghadap Ka’bah belum turun. Pintunya tiga buah yaitu pintu kanan, pintu kiri dan pintu belakang. Panjang Masjid 70 hasta, lebar 60 hasta. Dengan demikian Masjid tersebut di buat Tahun ke 1 Hijriyah. Di sisi timur Masjid dibangun tempat Kediaman Nabi dan Keluarganya yang kemudian  jadi tempat pemakamannya.­­

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *